NASIONALISME SEBAGAI KOMUNITAS TERBAYANG

Posted: July 9, 2012 in Kapita Selekta Sejarah Indonesia, Kuliah

 Konsep nasionalisme dalam pengertian modern berasal dari dunia barat. Nasionalisme mula-mula dibenihkan oleh golongan menengah Inggris yang tergabung dalam kelompok puritan, kemudian lewat pemikiran-pemikiran John Locke menyeberang ke Perancis dan Amerika Utara. Nasionalisme yang bangkit dalam abad ke-18 itu merupakan suatu gerakan politik untuk membatasi kekuasaan pemerintah dan menjamin hak-hak warga negara. Gerakan ini juga dimaksudkan untuk membina masyarakat sipil yang liberal dan rasional. Nasionalisme abad ke-18 itu telah melahirkan negara-negara kebangsaan (nation state) di Eropa dengan menentukan batas-batasnya di satu pihak dan melahirkan imperialisme di pihak lain (Cahyo Budi:17).

Masalah nasionalisme akan lebih mudah bila orang memperlakukan nasionalisme seolah-olah ia berbagi ruangan dengan kekerabatan dan agama, bukannya dengan liberalisme atau fasisme. Dengan gaya berpikir Antropologisnya, Anderson mendefinisikan nasional atau bangsa sebagai komunitas politis dan dibayangkan sebagai sesuatu yang bersifat terbatas secara inheren sekaligus berkedaulatan. Bangsa adalah sesuatu yang terbayang karena para anggota bangsa terkecil sekali pun tidak dapat kenal dengan sebagaian besar anggota lain, namun dalam pikiran setiap orang yang menjadi anggota bangsa itu hidup sebuah bayangan tentang kebersamaan mereka.

Nasionalisme merupakan kekuatan penting sebagai tenaga penggerak yang begitu hebat dalam sejarah abad ini. Tidak mengherankan jika abad XX ini sering disebut juga sebagai abad nasionalisme. Pergerakan kebangsaan Indonesia yang muncul pada dekade pertama abad ke-20 merupakan suatu fenomena baru di dalam sejarah bangsa Indonesia. Dalam hal tertentu pergerakan kebangsaan itu dapat dianggap sebagai lanjutan perjuangan yang masih bersifat pra-nasional dalam menentang praktek-praktek kolonialisme dan imperialisme belanda pada masa sebelumnya.

PEMBAHASAN

Dari pendapat beberapa kalangan, nasionalisme Indonesia itu asalnya dari barat. Hal itu tidak seluruhnya benar sebab seperti dikemukakan di muka bahwa tumbuhnya nasionalisme sebagai gejala sejarah didorong oleh banyak faktor obyektif. Nasionalisme tidaklah sama di setiap negara dan setiap zaman. Nasionalisme merupakan peristiwa sejarah, jadi ditentukan oleh ide-ide politik dan susunan masyarakat dari berbagai negara tempatnya berakar. Dengan demikian, nasionalisme yang dianut dan dikembangkan oleh bangsa Indonesia berbeda dengan nasionalisme barat. Meskipun diakui ada elemen-elemen dari barat yang mempengaruhi dan ikut membentuk nasionalisme Indonesia, antara keduanya terdapat perbedaan yang mendasar.

Indonesia kini seolah-olah dibawa kembali ke awal tahun-tahun 1900an, ketika kaum nasionalis merasa bahwa kesatuan itu harus digalang, namun mereka kekurangan alat dan jalan. Keyakinan bahwa kesatuan itu ada didepan mata pada tahun 1928 namun dibingungkan lagi karena Jepang, menurut rencana Jepang pada tahun 1945, tidak akan memerdekakan Indonesia seluruhnya akan tetapi hanya Indonesia barat, sedangkan Indonesia timur tetap berada dalam kekuasaan angkatan laut, sampai saat yang akan diputuskan lebih lanjut kelak dikemudian hari.

Persoalan itu kini seolah-olah diangkat kembali ke permukaan. Apakah Indonesia itu harus satu? Apa yang memungkinkan kesatuan itu? Apakah Indonesia harus terpisah-pisah dan membuat Indonesia itu tidak ada lagi? Dan pada akhirnya, apa itu Indonesia? Darimana nama aneh itu? Mengapa nama aneh itu mengalahkan sesuatu yang meski tidak kurang anehnya, namun lebih dekat di telinga kaum bumiputera, yaitu Nusantara? Mengapa nusantara sebagai nama sama sekali tidak mampu mengalahkan nama Indonesia sebagai nama pemberian ciptaan para etnolog dan antropolog asing. Dan kini oleh semua orang, sebegitu rupa sehingga mereka menganggap nama itu warisan nenek moyang dari nenek moyangnya, dan nenek dari moyangnya lagi.

Semua pertanyaan yang kedengarannya mengada-ada itu tiba-tiba kini dipenghujung abad dua puluh dan di awal abad duapuluh satu pada hari-hari pertama millenium ketiga menjadi riil sambil mengguncang-guncang bangsa ini dari semua kepastian dan keyakinan. Dari semua sumpah dan janji yang diberikan pada tahun 1928. Yang tadinya the holy trinity, tritunggal suci (bahasa, bangsa dan tanah air) kini berubah menjadi unholy trinity yang mau mendepak satu sama lain.

Satu bahasa tidak lagi dengan sendirinya mengharuskan Indonesia jadi satu bangsa. Riau, tempat asal bahasa melayu yang menjadi bahasa Indonesia, kini bergolak untuk memisahkan diri. Satu bangsa, tidak dengan sendirinya mengharuskannya berbicara satu bahasa. Misal, hampir seluruh gejala jawanisasi bahasa Indonesia dalam surat kabar, radio, televisi menjelaskan itu. Satu tanah air tidak dengan sendirinya mengahruskannya jadi satu bangsa. Aceh adalah contoh paling berdarah, Papua juga peristiwa paling mengusik nurani dan rasa kemanusiaan dan akhirnya tentu saja Timor Timur adalah contoh paling menyakitkan dan menyiksa dari semuanya. Bangsa-bahasa-tanah air seolah-olah melibatkan dirinya dalam suatu perang besar yang menjadikan bangsa mencair, rasa kebangsaan menciut bahkan sirna sekaligus. Lantas apakah itu bangsa, kebangsaan dan rasa kebangsaan.

Nasionalisme memang dahsyat. Karena itu dalam banyak hal nasionalisme menemukan bangsa, dan mengumumkan negara dan dalam prosesnya lagi negara menemukan bangsa. Bagi Indonesia sendiri pun pengalaman ini bukan barang aneh, nasionalisme menemukan bangsa dengan mengambil alih Timor Timur menjadi bagiannya karena menganggap bahwa wilayah bangsa koterminus dengan wilayah politik.

Dengan kata lain Timor Timur adalah wilayah Indonesia yang tertunda kelahirannya, dan yang akan lahir pada saatnya tepat. Waktu itu sudah mulai matang bersama matangnya orde baru sehingga pada bulan Desember tahun 1975 Timor Timur diduduki dan diambil alih. Seluruh rentetan tragedi Timor Timur masih sangat segar dan masih mendera bangsa ini sampai sekarang. Soekarno berpulang terlalu cepat lima tahun pada tahun 1970 untuk menyaksikan suatu perubahan mendasar dari apa yang dikatakannya tahun 1928, ketika Indonesia melakukan invasi besar-besaran ke Timor Timur pada malam Natal 24 Desember 1975.

Nasionalisme Indonesia bukan lagi nasionalisme ketimuran yang semata-mata membuat kita hidup dalam roch akan tetapi berubah jadi nasionalisme bukan ketimuran dan bukan kebaratan, akan tetapi suatu nasionalisme negara yang menyerang dan mengejar keperluannya sendiri. Pada tahun 1928 Soekarno terlalu muda untuk paham seluk beluk bahwa nasionalisme menyerang bukan milik barat dan bukan pula milik timur, akan tetapi suatu yang tertanam dalam diri kebangsaan negara sebagai akibat eksesif suatu negara bangsa. Ketika RRC menyerang, meski tidak sampai atau berhasil mengambil alih vietnam, ini bukan refleksi nasionalisme menyerang barat. Hingga ketika Vietnam pada gilirannya mengambil alih Cambodia ini pun bukan nasionalisme barat. Ketika Indonesia mengambil alih Timor Leste, inilah Indonesia hasil proklamasi Soekarno-Hatta sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

Nasionalisme yang dianut melandasi perjuangan bangsa Indonesia hingga  mempunyai identitas sendiri. Nasionalisme Indonesia tumbuh dan berkembang dari dan dalam kebudayaan masyarakat Indonesia sendiri. Berbeda dari nasionalisme barat, nasionalisme Indonesia tidak didasarkan atas falsafah yang sempit dan deterministik.

Hal itu mengandung makna bahwa dengan nasionalisme itu bangsa Indonesia menyadari keberadaannya dalam tata pergaulan hidup dengan bangsa-bangsa lain. Soekarno dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945 didepan PPKI mengingatkan bahwa tanah air kita hanya satu bagian kecil saja dari dunia. Oleh karena itu kebangsaan (nasionalisme) yang dianjurkan bukan kebangsaan yang menyendiri.

Namun di era sekarang ini adalah sebuah kenyataan jika nasionalisme dipandang sebagai sesuatu yang anthropological in nature, yaitu sebuah proses pembayangan komunitas yang pada mulanya bersifat antropologis (kebudayaan) menjadi komunitas yang bersifat politis (kekuasaan). Semuanya menjadi politikal, ketika dalam konsep antropologis di atas dihembuskan konsep lain yakni “sebuah bayangan tentang kebersamaan mereka” yang pada saat yang sama komunitas antropologis itu berubah menjadi sesuatu yang terbayang berada dalam bangunan bayang-bayang citra sebagai komunitas politik dan ingin menyatukan semua yang berada dalam batas-batas kesamaan itu. Pembayangan ini dapat dilihat juga di Indonesia. Bagaimana individu-individu dari berbagai propinsi di Indonesia seperti Jawa, Kalimantan, Papua, Sulawesi, Sumatera, bersama-sama membayangkan kebersamaan mereka yang disatukan dalam doktrin Bhineka Tunggal Ika.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, Benedict (2002). Imagined Communities: Reflection on the Origin and Spread of Nationalism. Yogyakarta: Pustaka Pelajar & Insist Press.

Budi utomo, Cahyo (1995). Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia: Dari Kebangkitan Hingga Kebangsaan. Semarang: IKIP Press.

http://aunulfauzi/12/08/2008makna-kebangsaan.html (diunduh pada 02 mei

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s