KAPAL DAN PELABUHAN Buku Dunia Maritim Pantai Barat Sumatra Karya Gusti Anan

Posted: July 9, 2012 in Kuliah, Sejarah Maritim

KAPAL DAN PELABUHANA.  KAPAL

Kapal adalah penamaan terhadap alat sarana transportasi laut yang ukurannya besar. Sebaliknya perahu adalah penamaan terhadap sarana transportasi yang ukurannya lebih keci. Perahu juga mengandung arti sebagai sarana transportasi laut yang dibuat oleh penduduk pribumi.

Jenis perahu tradisional yang digunakan untuk kegiatan perdagangan di kawasan pantaibaratini adalah cunia, jalur, kolek, pencalang, rakit, sampan, sampan gadang, sampan payang (pamayang),dan tambangan.

Jalur, kolek, rakit, sampan dan sampan gadang banyak digunakan untuk pelayaran dan perdagangan sungai. Karena ukurandan daya angkutnya tidak begitu besar. Panjang rata-rata 6 m dan daya angkutnya 1,5 ton.

Cunia, kolek, pencalang, pamayang dan tambangan banyak digunakan dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan laut lepas. Kapal dan perahu jenis ini dibuat oleh tukang pribumi. Pusat pembuatannya adalah di kota Padang, Indrapura, Air Bangis dan Singkel.

Sedangkan brik, schoner, top dan wangkang adalah kapal yang dirancang untuk pelayaran dan perdagangan laut lepas.

Di pantai barat Sumatra ini juga datang kapal dari India, Eropa dan Amerika. Namun pada taun 1830-1847 jumlah kunjungan kapal mancanegara non Belanda mengalami penurunan. Karena menurunnya harga kopi di pasaran internasional, berubahnya politik ekonomi pemerintah pantai barat dengan memonopoli pembelian dan penjualan kopi, ketika dinaikkan berbagai jenis pajak bagi saudagar dan pelaut asing yang datang dan berniaga di kawasan ini.

Kapal dan perahu milik pribumi pada waktu itu adalah pencala, kolek, tambangan, pamayang dan cunia. Sedangkan kapal yang dimiliki cina pada waktu itu adalah tungkang dan wangkang. Setiap kapal yang berlayar biasanya disamping membawa barang orang lain juga membawa barang milik sendiri. Pola perdagangannya yaitu commenda. Yakni kapal yang mereka layarkan dan barang-barang yang mereka bawa sesungguhnya kapal dan barang milik bersama (nahkoda, awak kapal dan pemilik kapal). Nahkoda menunjukkkan bahwa dia diberi kebebasan sepenuhnya oleh pemilik kapal untuk mengambil setiap tindakan dan kebijaksanaan dalam membawa kapal dan melakukan transaksi perdagangan.

Dalam kegiatan perdagangan dan pelayaran bangsa pribumi, pembagian keuntungan didasarkan pada laba bersih yang diperoleh. Perhitungan biasanya dilakukan dengan jalan menhitung semua modal dan biaya operasi. Setelah biaya operasi dikeluarkan laba bresih biasanya dibagi tiga. Nahkoda 50 %, pemilik modal dan kapal 20 %, anak buah kapal 30 %. Dilaporkan bahwa rata-rata penghasilan pelaut ini pada tahun 1870-an sebagai berikut, juru mudi utama f 32, juru mudi kecil f 30, juru batu f 28, dan anak perahu f 24. Upah biasanya diberikan segera setelah mereka kembali dari setiap pelayaran. Sedangkan penghasilan rata-rata pelaut yang bekerja pada perahu dan kapal milik cina dan eropa didapat keterangan yang menyatakan bahwa rata-rata juru mudi utam bergaji f 20, juru batu f 14, dan anak kapal f 10 yang dbayarkan per bulan.

Di kawasan pantai barat Sumatra ini pada tahun 1874 mulai beroperasi NISM, perusahaan pelayaran. Dienst 1(pangkalan/dermaga): menghubungkan padang dengan kawasanpaling utara dan selatan pulau Sumatra dan Batavia. Kota yang disinggahi adalah Batavia, Teluk Betung, Bengkulu, Padang, Analabu dan Aceh. Dienst 2: beroperasi terutama dikawasan pantai barat hingga Aceh. Kota yang disinggahi yaitu Padang, Pariaman, Air Bangis, Natal, Sibolga, Barus, Singkel, Gunung Sitoli, Analabu dan Aceh. Sejak tahn 1879 perusahaan NISM menambah 1 dienst yaitu antara Batavia-Padang.

Perusahaan KPM yang didirikan oleh pemerintah tahun 1888 dan mulai beroperasi 1891 juga menjadikan kawasan pantai barat Sumatra sebagai satu daerah utama pelayanannya.

NISM dan KPM adalah perusahaan pelayaran yang disubsidi pemerintah. Kedua perusahaan ini mendapat hak istimewa untuk melaksanakan transportasi laut diseluruh wilayah Hindia Belanda. Pemerintah memberikan perlakuan istimewa kepada mereka. Bahkan pemerintah pernah mengambil tindakan tegas dengan melarang beroperasinya kapal-kapal milik swasta pada rute-rute yang dilayari oleh perusahaan ini. Segala sesuatu yang berhubungan dengan perusahaan ini seperti rute dan tarif ditentukan oleh pemerintah. Untuk tarif perusahaan KPM, penumpang kelas 1,2,3 dan 4 dipungut bayaran f 0,80, f 0,40, f 0,16, f 0,08 permil laut. Tarif yang dikenakan oleh perusahaan KPM ini dianggap sangat mahal dibanding perusahaan mili swasta.

Bagi pemerintah kolonial, kedua perusahaan ini tidak saja mempunyai arti sebagai sarana transortasi semata. Tapi juga bertindak sebagai sarana pemersatu daerah koloni mereka. Kapal-kapal ini juga digunakan untuk keperluan militer. Misal, ketika perang Aceh pecah pemerintah menggunakan kapal-kapal NISM dan KPM untuk membawa tentara dan perlengkapan perang.

Dalam melakukan aktifitasnya berbagai perusahaan perkapalan ini juga ada yang mengageni. Dekade 1870-an hingga awal 1880-an Diemunt & Co merupakan perusahaan yang menjadi agen hampir semua perusahaan perkapalan yang beroperasi dikawasan ini. Hingga pada tahun 1890-an digantikan oleh perusahaan J.Dandels & Co.

Kedatangan kapal-kapal mancanegara seperti Amerika, Inggris, Jerman, Prancis, Rusia dan India yang awalnya ikut meramaikan kawasan pantai barat Sumatra dengan tujuan berdagang, lambat laun mulai menurun. Penurunan ini terutama dilatar belakangi oleh semakin menurunnya aktifitas perdagangan dkawasan ini pasca 1860an. Selain itu juga dipengaruhi oleh semakin berkembangnya kawasan timur sumatra sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

  1. B.  PELABUHAN

Plabuhan merupakan tempat kapal dan perahu merapat, membongkar dan memuat muatannya. Pada tahun 1819-1847 kondisinya masih sangat sederhana. Di kota Padang mempunyai 2 pelabuahn yaitu pelabuhan Muaro di Muara Sungai Padang dan reede (pelabuhan) yang terdapat dipulau pisang gadang. Reede adalah nama lain dari pelabuhan yang dikenal dalam duniapelayaran di zaman hindia belanda. Reede dibangun apabila tidak memungkinkan dibangun pelabuhan dengan berbagai kelengkapannya.

Pelabuhan yang terdapat di Muaro yang hanya bisa dimasuki kapal atau perahu dengan tonase kurang dari 20 ton. Penyebabnya adalah kedalaman air di Muaro sangat dangkal, sehingga tidak memungkinkan kapal-kapal ynag besar merapat. Karena ukuran kapal yang beroperasi dikawasan ini mempunyai tonase sekitar 20 ton kebawah maka pelabuhan muara merupakan pelabuhan yang paling banyak dikunjungi kapal.

Teluk Tapanuli terdapat sebuah reede yang berlokasi di Pulau Pocan kecil. Kira-kira 0,5 mill laut dari pantai. Hingga awal abad 1840 reede di Pulau Pocan merupakan satu-satunya di tapanuli.

Semua pelabuhan di kawasan pantai barat sumatra ini terletak dekat pusat kota. Juga dekat dengan pasar. Bangunan-bangunan penting dan gudang-gudang pemerintahan terletak tidak jauh dari pelabuhan. Pelabuhan yang dikuasai pemerintah biasanya terdapat bea cukai yang mencatat jumlah kapal yang datang dan pergi, ukuran, muatan, asal dan tujuan. Kapal yang dicatat adalah kapal yang besar.

Tahun 1850 berkembang pesat kegiatan pelayaran dikawasan ini seiring dengan kemajuan perdagangan, terutama kopi. Namun sampai pertengahan abad 19 kondisi reede sangat memprihatinkan. Misal, dermaga yang ada di Pulau Pisang Gadang sangat kecil, pendek, terlalu rendah dan pelayanannya sangat terbatas. Hinga akhir tahun 1850, pemerintah Hindia-Belanda melakukan perbaikan. Dermaga diperpanjang dan ditambah. Dibangun pula barak tentara dan gudang batu bara. Tempat pendaratan penumpang dan barang ditingkatkan mutunya yang asalnya dari kayu menjadi beton.

Didaerah utara, terutama di Tapanuli juga dilakukan perbaikan sarana dan prasarana transportasi. Dibangun gudang batubara untuk kapal perang yang beroperasi dikawasan utara.

Pemerintah juga membangun menara suar didekat reede (pelabuhan). Dikota Padang dan sekitarnya juga terdapat 5 buah petunjuk dan ranbu-rambu kapal. Di tahun 1870, padang dinyatakan sebagai pelabuhan kelas A bersama dengan pelabuhan Batavia, Semarang, Surabaya dan Makassar. Karena dianggap mampu melayani kegiatan pelayaran nasional maupun internasional serta kegiatan ekspor impor semua komoditas.

Akhir tahun 1880an, pemerintah membangun pelabuhan baru di kota Padang. Yaitu Emmahaven. Banyak nama yang diusulkan sebelumnya, diantaranya: Brandewijn, Padang Baru, Teluk Bayur dan Teluk Wilhelmina.Pembangunan pelabuhaninidikarenakanreede yang ada dianggap sudah tidak mampu menampung bersandarnya kapal-kapal besar. Dalam komplek pelabuhan ini dibangun pula stasiun kereta api yang menghubungkan pelabuhanEmmahavendengan kota Padang.

free download PPt Kapal dan Pelabuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s